Senin, 21 Mei 2012

Denda bayar hutang, apakah termasuk riba?

Didalam kehidupan sehari-hari apalagi yang berkecimpung di dunia utang-piutang pinjam meminjam dan banyak istilah lainnya pasti tidak asing dengan yang namanya "bunga", semisal si A memberi hutang si B 1 juta dengan syarat jika dalam sebulan tidak bisa mengembalikan maka si B harus membayar denda 10%, padahal secara tidak kita sadari hal yang kita anggap normal dan biasa-biasa saja itu mengandung bom waktu yang siap meledak jika kita sudah tidak hidup di dunia ini alias direlokasi ke akhirat. Ya, itulah sebenarnya yang dinamakan Riba'.


Riba sendiri dibagi menjadi 4 macam: riba nasiiah (riba jahiliyyah), riba fadlal, riba qaradl, dan riba yadd. Berikut penjelasannya:

1. Riba Nasii`ah. Riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru seperti yang saya contohkan di awal tadi.
2. Riba Fadlal. Riba fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang sejenis. Kalau jaman dahulu kita mengenal yang namanya barter atau pertukaran barang, yang dilarang disini adalah misal si A punya satu kilo jeruk nipis dan si B punya 1 buah jeruk sunMoon (jeruk Belanda yang harganya mahal), kedua orang ini bisa dikatakan Riba jika menukar jeruk nipis dan jeruk sunMoon karena barangnya sejenis tapi tidak sebanding kualitasnya, namun jika si A menjual jeruk nipisnya, lalu uang penjualannya dipakai untuk membeli jeruk si B, maka itu diperbolehkan.
3. Riba al-Yadd. Riba yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran uang atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima. Contoh si A dan si B mau bertukar handphone yang jenisnya sama, tapi saat akad terjadi,si B tidak membawa handphonenya karena masih dibawa adiknya, sehingga harus menunggu sore nanti saat adiknya pulang kerumah, maka si A dilarang untuk menyerahkan HP nya kepada si B sampai si B mampu menunjukkan HP nya.
4. Riba Qardl. Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman. Ini mungkin hampir sama denan Riba Nasii'ah, contoh si A mengembalikan uang yang dipinjamkannya kepada si B, namun oleh si A ditambahi dengan membawakan rokok untuk si B, maka si B dilarang untuk menerima pemberian rokok dari si A tadi dengan alasan apapun, kecuali si A tadi memberikannya di lain hari dan tidak ada hubungannya dengan pembayaran utang.

Allah SWT sudah berfirman “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [QS. Al Baqarah: 275].

Maka, marilah mulai dari sekarang kita tinggalkan apa apa yang masih mengandung Riba', masih banyak cara untuk mendapatkan rezeki yang halal dan di ridhoi Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar